Skip to content
Rilisind.com, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) Perancis resmi menjajaki implementasi kerja sama riset kelautan strategis melalui pertemuan teknis di gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu, 2 April 2026. Kolaborasi ini menitikberatkan pada pemanfaatan armada kapal riset untuk memetakan potensi sumber daya laut serta mitigasi bencana geologi di kawasan samudera Indonesia.
Menuju Kedaulatan Riset Maritim
Kerja sama ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah konkret untuk memperdalam pemahaman mengenai dinamika laut dalam. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Mego Pinandito menegaskan, kemitraan dengan institusi riset terbesar di Eropa ini akan membuka akses teknologi dan peningkatan kapasitas periset lokal.
Mego menyampaikan, fokus utama dalam waktu dekat adalah eksplorasi di kawasan Java-Trench (Palung Jawa). Wilayah ini memiliki karakteristik geologi yang kompleks dan menjadi kunci dalam memahami potensi gempa bumi serta tsunami di selatan Pulau Jawa. Melalui data presisi dari kapal riset canggih, kedua negara berharap dapat menghasilkan publikasi ilmiah yang berdampak global sekaligus kebijakan mitigasi yang lebih akurat.
“Kerja sama ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di kancah riset kelautan dunia. Kami tidak hanya berbagi sumber daya, tetapi juga memastikan adanya transfer teknologi yang berkelanjutan bagi talenta riset muda kita,” ujar Mego dikutip dari situs resmi BRIN, Minggu, 5 April 2026.
Implementasi dan Skema Pendanaan
Selain aspek teknis kelautan, pertemuan ini juga membahas skema pendanaan bersama dan mekanisme pertukaran peneliti. Perwakilan CNRS menekankan pentingnya keberlanjutan riset agar tidak berhenti pada pengumpulan data semata, melainkan berlanjut hingga tahap analisis laboratorium yang mendalam.
Dalam konteks strategis, kolaborasi ini mencakup studi biodiversitas laut dalam, perubahan iklim, hingga pemetaan alur laut. Peneliti dari kedua negara akan dilibatkan dalam ekspedisi bersama menggunakan kapal riset milik BRIN maupun armada pendukung dari Perancis. Hal ini bertujuan untuk menciptakan efisiensi operasional dalam misi-misi eksplorasi yang memakan biaya besar.
Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN Ajeng Arum Sari menambahkan, pihaknya terus menyempurnakan regulasi terkait izin riset bagi mitra internasional. Hal ini dilakukan untuk memastikan, setiap kegiatan penelitian tetap menghormati kedaulatan wilayah Indonesia dan memberikan manfaat nyata bagi kepentingan nasional.
“Kami berkomitmen untuk memberikan dukungan administratif dan legalitas yang jelas, agar kolaborasi strategis dengan CNRS ini dapat berjalan lancar tanpa hambatan birokrasi yang berarti,” jelas Ajeng. (Red/Evi)